Selasa, 25 November 2014

Tugas Kuliah



MAKALAH
EKONOMI MANAJERIAL
PENAKSIRAN FUNGSI PERMINTAAN

Description: untitled.JPG

DI SUSUN OLEH :

1.     ANIYA
2.     DESI DWIYANTI
3.     ERNA RUKMANA DEWI
4.     LINTANG NENSILIA LOLITA
5.     SRI BUDIARTI
6.     TITIN FATIMAH





BAB I

PENDAHULUAN

 

A.    Latar Belakang


                 Dalam makalah ini dimaksudkan untuk membahas tentang bagaimana cara/metode yang biasa di dalam memperoleh data permintaan untuk memecahkan masalah-masalah keputusan bisnis. Tentu saja harapannya adalah bahwa nilai informasi yang dapat seharusnya lebih besar dibandingnya dengan biaya yang digunakan untuk mendapatkan informasi tersebut.
            Sebelum membahas persoalan diatas lebih jauh, terlebih dahulu kita bedakan pengertian antara penapsiran (estimation) dan prakiraan (forecasting) permintaan. Penaksiran permintaan merupakan proses untuk menemukan nilai dari koefisien-koefisien fungsi permintaan akan suatu produk pada masa kini (curen values). Sedangkan prakiraan permintaan merupakan proses menemukan nilai-nilai permintaan pada periode waktu yang akan datang (future values). Nilai-nilai masa kini dibutuhkan untuk mengevaluasi optimalitas penentuan harga sekarang dan kebijaksanaan promosi dan untuk membuat keputusan sehari-hari. Nilai-nilai pada untuk waktu yang akan datang diperlukan untuk perencanaan produksi, pengembangan produk baru, investasi, dan keadaan-keadaan lain dimana keputusan yang harus dibuat mempunyai dampak pada periode waktu yang panjang.

B.    Rumusan Masalah


            Telah dikatakan sebelumnya, untuk memecahkan masalah keputusan dalam suatu bidang bisnis, salah satu data yang diperlukan adalah data permintaan. Permintaan konsumen terhadap suatu produk/barang dapat dinyatakan dengan suatu fungsi yang merupakan hubungan antara variabel dependen dengan variabel independen. Variabel-variabel inilah yang nantinya akan akan dicari nilai koefisiennya dan akhirnya dengan suatu teknik tertentu dapat diketahui hubungan antara kedua variabel tersebut. Maka yang menjadi permasalahan dalam makalah ini adalah sebagai berikut :
1.     Bagaimana mengidentifikasi dan penaksiran permintaan?
2.     Apa yang dimaksud dengan analisis kualitatif?
3.     Bagaimana pengembangan metode analisis regresi, analisis waktu dan proyeksi?

BAB II

ISI

 

A.    IDENTIFIKASI DAN PENAKSIRAN PERMINTAAN


1.1  Pengertian


Identifikasi  dan penaksiran permintaan adalah suatu proses pengamatan dan penaksiran  suatu permintaan produk barang atau jasa dipasaran. Penaksiran permintaan itu sendiri adalah proses menemukan nilai-nilai koefisien dari fungsi permintaan suatu produk. Dimana fungsi permintaan adalah fungsi dari variabel-variabel harga, iklan, pendapatan konsumen, trend, dan variabel- variabel lain yang mempengaruhi tingkat permintaan.

1.2 Metode  Penaksiran Permintaan


Metode estimasi (penaksiran) dalam fungsi permintaan bisa digolongkan menjadi 2 yaitu :
a.      Metode langsung
1)     Interview dan surve
Metode langsung estimasi permintaan, secara sederhana dapat dilakukan
dengan mengajukan pertanyaan kepada pembeli terhadap perubahan dalam harga ataupun determinan lain. Metode langsung estimasi permintaan, secara sederhana dapat dilakukan dengan mengajukan pertanyaan kepada pembeli maupun pembeli potensial tentang reaksi-reaksi potensial terhadap perubahan dalam harga ataupun determinan lain atas keputusan mereka untuk membeli produk.
            Pappas (Terjem. 1995:2000), teknik ini dapat diterapkan secara naip dengan semata-mata mencegat orang-orang yang berbelanja dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang jumlah produk yang akan mereka beli di berbagai tingkat harga. Dalam ekstrim lainnya, para pewawancara terlatih mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang canggih ke sebuah sampel pelanggan yang dipilih secara seksama untuk menghasilkan informasi yang diinginkan.


Walaupun kelihatannya sederhana, dalam pelaksanaannya pendekatan ini menghadapi banyak kesulitan, yaitu :
Ø  Kecakapan random
                        Individu yang disurvei harus mewakili pasar secara keseluruhan sehingga hasilnya tidak bisa.
Oleh sebab itu sampel harus cukup besar dan menggunakan metode random sehingga informasi pasar yang layak untuk mengadakan rencana perubahan.
Ø  Bias pewawancara
Dalam hal ini kehadiran pewawancara dapat mempengaruhi perasaan responden menjadi agak bodoh sehingga responden dapat memberikan jawaban-jawaban yang tidak benar. Bias pewawancara sering terjadi baik dalam personal interview, dan bahkan koesioner yang diposkan sekalipun (sebab ada orang lain yang membacanya).
Ø  Adanya kesenjangan antara niat dan tindakan
Arsyad (1993:169), masalah ini sering disebut juga sebagai masalah akurasi jawaban (response accurasy). Konsumen benar-benar berniat membeli suatu produk ketika diwawancarai, tetapi ketika dipasarkan mungkin sesuatu hal telah mengubah niat dan pikiran konsumen tersebut. Akhirnya jawaban-jawaban responden juga tidak dapat dipercaya bila pertanyaan yang diajukan membingungkan atau ditafsir salah atau mengundang hal-hal di luar dunia imajinasi konsumen.Secara ringkas bisa dikatakan bahwa dalam membuat koesioner, harus dipikirkan masak-masak dan hati-hati dan harus disertai analisis dalam menginterprestasikan hasil survei. Berikut diberikan contoh hasil survei pasar.
2)     Situasi pasar simulasi
            Tidak seperti klinik konsumen,yang dijalankan dalam suatu laboratorium yang ketat,eksperimen pasar (Market ekperimen) diadakan dipasar yag sesugguhnya. Terdapat banyak cara untuk melakukan eksperiment ini. Salah satu metodenya adalah dengan memilih beberapa pasar dengan karakteristik sosioekonomi yang mirip dan mengubah harga komoditas didalam beberapa toko atau pasar, mengubah bungkus  dipasar atau toko yang lain,serta mengubah jumlah dan tipe promosi di pasar atau toko yang lainnya, kemudian merekam respon (pembeli) yang dilakukan oleh konsumen di beberapa pasar tersebut.

Dengan mennggunakan data sensus atau survey terhadap berbagai macam pasar, sebuah perusahaan juga dapat menentukan efek dari umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan,pendapatan, jumlah keluarga dan lainnya terhadap permintaan akan komoditas. Pilihan lainnya perusahaan dapat mengubah, satu hal sdalam satu waktu, masing – masing factor yang menentukan permintaan yang bisa dikontrol dalam pasar tertentu, dalam jangka waktu tertentu , dan merekam respon konsumennya.
Keunggulan dari eksperimen pasar adalah bahwa mereka  dapat dilakukan dalam skala besar untuk lebih meyakinkan mengenai keabsahan dari hasilnya dan bahwa konsumen tidak sadar bahwa mereka merupakan bagian dari suatu eksperimen.  Eksperimen pasar ini juga mempunyai beberapa kekurangan yang serius. Salah satunya adalah bahwa dalam rangka menjaga biaya tetap rendah, eksperimen biasanya tetap dilakukan dalam skala yang terbatas dan dalam jangka waktu yang relatif singkat, sehingga gambarannya terhadap seluruh pasar dan untuk jangka waktu yang lebih panjang patut dipertanyakan.Kejadian ini diluar dugaan, seperti mogok, cuaca yang buruk, dapat secara serius menjadikan hasil yang bias dalam eksperimen yang tidak terkontrol. Mereka juga dapat memonitor eksperimen ini dan mengambil keuntungan informasi yang bermanfaat yang tidak ingin dibuka oleh perusahaan. Akhirnya, sebuah perusahaan dapat secara permanen kehilangan pelanggan karena proses peningkatan harganya selama eksperimen berlangsung dengan harga yang relatif tinggi.
            Disamping kekurangan tersebut , eksperimen pasar dapat berguna bagi perusahaan  dalam menentukan strategi penentuan harganya yang terbaik dan menguji beberapa jenis bungkus yang berbeda , kampanye promosi, dan kualitas produk. Eksperimen pasar yang utama benar-benar berguna dalam proses pengenalan produk dimana tidak ada data lainnya yang tersedia. Ia juga menjadi sangat bermanfaat   dalam menguji hasil dari teknik statistik yang lainnya yang digunakan untuk mengestimasi permintaan dan dalam menyediakan beberpa data yang diperlukan untuk teknik statistik yang lain nya dari estimasi permintaan.Alat lain untuk melihat respon konsumen terhadap perubahan harga dan usaha promosi adalah pembuatan pasar simulasi. Pasar simulasi dimaksudkan untuk mempertimbangkan perilaku konsumen.



3)     Eksperimen pasar secara langsung
            Eksperimen pasar secara langsung ini melibatkan orang-orang yang benar-benar berada di situasi pasar sebenarnya yang membelanjakan uangnya untuk barang dan jasa yang mereka inginkan. Perusahaan memilih satu kota atu lebih, pasar regional, atau negara dan melakukan eksperimen pada “pasar-pasar uji” ini dirancang untuk mencari tahu “penerimaan” konsumen atas produk dan mengidentifikasi dampak perubahan dari satu variabel yang dapat dikendalikan atau lebih terhadap jumlah yang diminta.
Sebagai contoh, pada sebuah pasar regional perusahaan dapat memotong harga produknya sebesar 10% dan membandingkan reaksi penjualan pada pasar tersebut dengan pasar regional serupa lainnya. Kemungkinan lain, perusahaan tersebut dapat meningkatkan promosi di pasar tertentu untuk “menilai” dampak dari suatu perubahan sebelum menanggung biaya dan resiko yang lebih besar untuk melakukan perubahan tersebut di seluruh wilayah negara.

b.     Metode tidak langsung
1.     Analisis regresi permintaan konsumen.
Sebuah teknik statistik yang digunakan untuk menemukan ketergantungan dari suatu variabel terhadap satu atau lebih variabel lain. Jadi teknik ini dapat diterapkan untuk mencari nilai dari koefisien-koefisien tersebutmenunjukkan pengaruh dari variabel yang menentukan permintaan sebuah produk.

B.    ANALISIS KUALITATIF          


Survei dan jajak pendapat sering digunakan untuk membuat ramalan jangka pendek apabila data kuantitatif tidak tersedia. Teknik-teknik kualitatif ini dapat pula bermanfaat untuk melengkapi peramalan kualitatif yang mengantisipasi berbagai perubaha dalam selera konsumen atau harapan-harapan perusahaan mengenai kondisi perekonomian dimasa mendatang. Teknik-teknik itu juga bisa tak ternilai dalam meramalkan permintaan terhadap produk yang ingin diperkenalkan oleh perusahaan. Di subab ini akan dikaji dengan singkat peramalan berdasarkan survei, jajak pendapat, dan meminta perspektif di luar negeri.

1.1 Teknik survei


                        Pemikiran untuk mengadakan peramalan berdasarkan survei mengenai berbagai kecenderungan ekonomi adalah supaya berbagai keputusan ekonomi dapat dibuat dengan baik sebelum terjadi pengeluaran aktual. Beberapa survei yang sangat terkenal yang digunakan untuk meramalkan kegiatan ekonomi pada umumnya dan kegiatan ekonomi di berbagai sektor perekonomian adalah :
1.     Survei tentang pabrik dan para eksekusi bisnis dan rencana pengeluaran untuk perlengkapan. Survei ini dilakukan secara berkala oleh McGraw-Hill,Inc menyangkut lebih dari 50% pembelanjaan pabrik dan perlengkapan baru, dilaksanakan dua kali setahun, dan diterbitkan oleh Business Week (suatu terbitanMcGraw-Hill).
2.     Survei tentang rencana perubahan inventori dan harapan penjualan. Ini dilaksanakan secara berkala oleh Departemen Perdagangan, Asosiasi Agen Pembelian Nasional dan mereka melaporkan tentang rencan para eksekutif bisnis mengenai perubahan inventory dan harapan akan penjualan di masa mendatang.
3.     Survei tentang rencana pengeluaran konsumen. Ini dilaksanakan secara berkala oleh Biro Sensus dan Pusat Riset Survei Universitas Michigan, dan mereka melaporkan tentang keinginan konsumen untuk membeli produk-produk spesifik, termasuk rumah, peralatan konsumen, dan mobil. Hasilnya sering dipakai untuk meramalkan permintaan konsumen pada umumnya dan tingkat kepercayaan konsumen dalam perekonomian.
Umumnya, laporan dari survei-sirvei ini sudah cukup baik untuk meramalkan berbagai pengeluaran aktual, kecuali dalam masa-masa gejolak politik internasional yang tak diharapkan, seperti perang atau ancaman perang. Apabila digunakan secara bersama-sama dengan metode-metode kualitatif lainnya, survei bisa sangat berguna dalam meramalkan kegiatan ekonomi di sektor-sektor ekonomi yang spesifik dan untuk perekonomian secara keseluruhan. Perusahaan AS mengeluarkan lebih dari $ 1 milyar setiap tahun untuk menanyakan kepada lebih dari 50 juta konumen tentang pendapat mereka mengenai berbagai produk barang dan jasa. Meskipun demikian, semakin besar jumlah konsumen yang menolak ikut serta dalam survei riset pasar karena waktunya tersita, privasinya hilang, dan adanya tekana dari para penjual yang beroperasi dengan selubung riset pasar. Ini menimbulkan kesulitan yang semakin besar dalam memperoleh sampel-sampel yang representatif dan tren pemanfaatan riset observasi yang lebih besar.

1.2 Jajak pendapat

Meskipun hasil-hasil survei yang diterbitkan mengenai rencana pengeluaran dari kalangan bisnis konsumen dan pemerintah sangat penting,namun biasanya perusahaan memerlukan peralatan spesifik untuk penjualan sendiri. Penjualan dari perusahaan sangat tergantung pada tingkat umum dari kegiatan  ekonomi dan penjualan untuk industri secara keseluruhan,tetapi juga tergantung pada kebijakan yang digariskan oleh perusahaan. Perusahaan dapat meramalkan penjualannya memlalui pendapat para pakar di dalam dan di luar perusahaan. Ada beberapa teknik jajak pendapat:
·       Jajak Pendapat Eksekutif.
Perusahaan dapat mengumpulkan pendapat para manajer tingkat atas dari bagian penjualan, produksi, keuangan, dan personalia mengenai pandangan mereka tentang masa depanpenjualan dari perusahaan selama kuartal atau tahun yang akan datang. Walaupun pandangan-pandangan pribadi itu lebih banyak bersifat subjektif,namun dengan mengambil rata-rata pendapat para pakar yang sangat mengenal perusahaan dan produk-produknya, perusahaan berharap dapat sampai pada peramalan yang lebih baik daripada pendapat yang disampaikan oleh para pakar tersebut secara individual. Para pakar pemasaran dari luar dapat juga dikumpulkan pendapatnya. Untuk menghindari efek kereta maka bisa digunakan apa yang dinamakan metode Delphi. Disini para pakar diminta pendapatnya secara terpisah, kemudian diberikan umpan balik tanpa mengidentifikasikan pakar yang bertanggung jawab atas pendapat tertentu. Melalui prosedur umpan balik diharapkan para pakar dapat sampai pada peramalan yang disepakati.
·       Jajak Pendapat Tenaga Penjual.
Ini adalah peramalan penjual dari perusahaan di tiap daerah pada setiap gugus produk. Peramalan ini didasarkan pada pendapat tenaga penjual yang ditugaskan dilapangan oleh perusahaan.Meraka adalah orang-orang yang paling dekat dengan pasar, dan pendapat mereka mengenai penjualan dimasa mendatang dapat memberikan informasi berharga bagi manajemen puncak perusahaan.
·       Jajak Pendapat Tentang  Konsumen.
      Beberapa perusahaan yang menjua mobil, mebel,alat-alat rumah tangga, dan barang-barang tahan lama lainnya kadang-kadang mengumpulkan pendapat para pembeli potensial mengenai apa yang ingin dibeli.

Dengan menggunakan hasil jajak pendapat itu, perusahaan dapat meramalkan penjualannya secara nasional untuk tingkat yang berbeda-beda dari pendapatan  disposable konsumen yang bisa disediakan pada masa depan.

1.2  Mendapatkan perspektif luar negeri


Banyak perusahaan AS menjual peningkatan hasil produksinya ke luar negeri dan menghadapi persaingan yang semakin meningkat di dalam maupun di luar negeri dan perusahaan asing.
Maka, menjadi semakin penting bagi perusahaan-perusahaan tersebut untuk meramalkan berbagai perubahan dalam paras dan produk di luar negeri karena hal ini memengaruhi tidak hanya ekspor perusahaan tetapi juga daya saingnya di dalam negeri.Untuk mendapatkan perspektif luar negeri seperti itu, semakin banyak perusahaan AS membentuk dewan-dewan beranggotakan orang-orang terhormat dan orang-orang bisnis dari luar negeri, terutama di Eropa. Maksudnya adalah untuk memperoleh perspektif global mengenai peristiwa-peristiwa yang berkembang sebagai akibat penyatuan ekonomi di Eropa Barat, restrukturisasi di Eropa Timur, dan liberalisasi ekonomi di pasar-pasar yang sedang muncul atau di negara-negara berkembang. Dasar pemikirannya adalah bahwa tidak ada cara yang lebih baik untuk meramalkan dan menggambarkan apa yang terjdi di Eropa, kecuali meminta gagasan-gagasan dari pemerintah dan para pemimpin bisnis yang ada di sana.
Sebagai contoh, General Motors mendapati bahwa Dewan Penasehat Eropa ternyata bermanfaat dalam mengadakan persiapan-persiapan menghadapi dasa-warsa pertama abad baru. IBM minta bantuan para dewan penasehatnya di Eropa, Asia, dan Amerika Latin untuk membantu mengembangkan rencana-rencana strategis. Keuntungan dari para dewan luar negeri seperti itu adalah tidak perlu membuang-buang waktu untuk meninjau kembali anggaran atau menangani tugas-tugas terpercaya lainnya seperti perencanaan suksesi dan dapat mencurahkan seluruh perhatiannya pada masalah-masalah internasional yang bisa berdampak besar terhadap masa depan perusahaan sebagai pesaing global. Para dewan perusahaan biasanya terlalu disibukkan oleh masalah-masalah mendesak dan begitu kurang pengetahuan tentang pembangunan sehingga tidak mampu menilai sepenuhnya situasi global. Masukan dari dewan-dewan luar negeri menjadi suatu alat tak ternilai untuk memperoleh perspektif global dan merencanakan strategi dalam dan luar negeri untuk jangka yang lebih panjang.

C.    ANALISIS REGRESI PERMINTAAN


Analisis regresi permintaan adalah sebuah teknik statistik yang digunakan untuk menemukan ketergantungan dari suatu variabel terhadap satu atau lebih variabel lain. Jadi teknik ini dapat diterapkan untuk mencarai nilai dari koefisien-koefisien tersebut menunjukkan pengaruh dari variabel yang menentukan permintaan sebuah produk. Untuk analisis regresi, kita membutuhkan sejumlah observasi, masing-masing terdiri dari variabel dependen Y dan nilai variable independen X yang berhubungan.
Analisa regresi ini memungkinkan kita untuk menarik kesimpulan dari pola hubungan yang ditunjukan oleh hasil opservasi. Dalam analisis ini dapat digunakan data runtut-waktu (time series) maupun data seksi-silang (cross-section).

ü  Linieritas Persamaan Regresi.
Dengan hipotesis bahwa Y adalah suatu fungsi dari X atau beberapa variable X, maka dapat ditentukan bentuk ketergantungan variabel Y terhadap variabel-variabel X, dalam analisis regresi menurut “ketergantungan” dinyatakan dalam bentuk yang linier. Dengan formulasi sederhana seperti berikut:








Ket :
y
=
Variable tetap
x
=
Variable bebas
a
=
Nilai konstanta
b
=
Nilai regresi
n
=
Jumlah data
rxy
=
Koefisien korelasi

Contoh :
Diketahui biaya promosi $15/unit pada tahun ke-6 (2015), hitunglah nilai penjualan dari produksi tersebut untuk koefisien korelasinya ?
N
x
y
x.y
X2
Y2
2010
10
150
1500
100
22.500
2011
11
160
1760
121
25.600
2012
10
155
1550
100
24.025
2013
12
165
1980
144
27.225
2014
13
170
2210
169
28.900

X = biaya promosi ($)  Y = sales promosi ($)
         

 =  =  = 5,88


Biaya promosi tahun ke-6 (2015) $ 15/unit :



                        Artinya variable x (promosi) sangat berpengaruh terhadap variable y (sales )
ü  Masalah- Masalah dalam Analisa Regresi
Ada enam masalah utama yang harus diperhatikan dalam analisis regresi, yaitu antara lain:
a.   Kesalahan Spesifikasi
Yang menyebabkan hasil regresi kurang  dapat dipercaya antara lain disebakan oleh kekeliruan dalam menentukan hubungan antara variabel tidak bebas dengan variabel tidak bebas dengan variabel bebas. Ada dua kemungkinan kesalahan tersebut, yang pertama adalah kesalahan dalam menggunakan bentuk hubungan fungsi antar variabel. Misalnya bentuk hubungan yang sesungguhnya tidak linier tetapi cetakan regresi yang dipakai menunjukkan hubungan linier. Sebenarnya dalam batas-batas tertentu landasan teori memberikan petunjuk mengenai bentuk hubungan tersebut. Akan tetapi dalam menemukan bentuk yang tepat, kita dapat menggunakan cara dengan mencoba berbagai bentuk persamaan. Bentuk persamaan yang nilai   paling tinggi kita anggap paling tepat. Sedangkan yang kedua kesalahan yang lain adalah kesalahan dalam bentuk tidak memasukkan variabel penjelasan yang relevan. Masalah ini diminimumkan melalui pengkajian teoritik yang cukup memadai. Memang disamping itu dengan cara merubah komposisi variabel-variabel penjelas, kita dapat mengatasi masalah ini.
b.   Kesalahan Pengukuran
Kesalahan pengukuran dapat timbul dari berbagai sebab. Daftar pertanyaan atau kuisioner yang kurang baik, wawancara yang kurang memadai, pendefenisian variabel yang tidak betul, dan sebagainya dapat berakhir pada kurang dapat dipercayainya hasil estimasi fungsi permintaan melalui besar-besaran statistik   yang terlalu kecil, statistik t yang terlalu kecil, statistik f yang terlalu kecil dan seterusnya.
c.   Hubungan persamaan Simultan
Dalam merancang sebuah fungsi regresi tidak dibenarkanadanya hubungan timbal balik anatara variabel tidak bebas dengan salah satu atau lebih variabel bebas. Bila ketentuan ini dilanggar maka timbul apa yang disebut bias persamaan (equation bias). Contoh yang sangat populer adalah penggunaan metode OLS untuk mengestimasi kurva permintaan pasar, dimana terdapat hubungan timbal balik antara harga dan kuantitas yang diminta. Kita dapat memperlakukan baik harta ataupun jumlah yang diminta sebagai variabel bebas atau sebagai variabel tidak bebas. Hal ini disebabka n oleh baik dari segi teori maupun dalam kenyataan keduanya ditentukan secara simultan (bersamaan) oleh kedua variabel itu sendiri.
d.   Multikolinieritas
Multikolinieritas timbul sebagai akkbat adanya hubungan kasual antara dua variabel pejelas (variabel bebas) atau lebih, atau sebagai akibat adanya kenyataan bahawa dua variabel penjelas atau lebih secara bersama-sama dipengaruhi oleh variabel ketiga yang berada diluar sistem persamaan regresi.
Keberadaan multikolinieritas dapat ditemukan melalui tes korelasi antar variabel penjelas. Kalau diketemukan korelasi yang tinggi, maka salah satu variabel penjelas dilepas.Dengan adanya multikolinieritas maka hasil estimasi koefisien regresi bersifat bias. Analisa regresi tidak mampu menemukan hubungan yang benar dan kemampuan hubungan yang benar prediksinya menjadi lemah. Namun demikian maslah adanya multikolinieritas dalam fungsi regresi dapat ditoleransi apabila persamaan itu dimaksudkan untuk tujuan prediksi, karena kita ingin  mengetahhui pengaruh seluruh variabel bebas bersama-bersama dan bukan untuk menjelaskan kekuatan-kekuatan hubungan masing-masing variabel bebas terhadap variabel tidak bebas. Tetapi bila regresi digunakan untuk keperluan sebagai modal penjelas, maka harus tidak ada multikolinieritas.
e.   Heteroskedastisitas,
Keadaan unsur ini dapat dilihat dari grafik distribusi nilai “residuals”. Kalau grafiknya secara teratur membengkok atau mengecil dengan bertambah besarnya nilai variabel penjelas, maka kita harus waspada dalam menginterprestasikan bessaran statistik t dan   karena kurang dapat dipercaya dengan kecenderungan terlalu tinggi diatas nilai yang sebenarnya. Nilai kesalahan standar koefisien regresi memberikan indikasi yang keliru. Masalah ini dapat diatasi dengan meninjau kembali komposisi variabel-variabel penjelas dan merubah bentuk persamaan hubungan fungsional.
f.    Otokorelasi atau serialkorelasi
Otokorelasi adalah masalah lain yang timbul bila kesalahan tidak sesuai dengan batasan yang diisyaratkan oleh analisis regresi. Otokorelasi atau serialkorelasi hanya terjadi kalau kita mengggunakan data kurun waktu (time series) dan ditandai oleh pola kesalahan yang beruntun. Yakni besarnya kesalahan kian besar atau kecil.
Yang menunjukkan pola siklus atau lainnya, karena observasi-observasi X disusun secara kronologis, pola ini menadakan bahwa beberapa variabel lain berubah secara sistematis dan mempengaruhi variabel dependen. Otokorelasi dapat ditemukan secara visual melalui grafik time series residuals atau uji statistik “Durbin waston”.
Otokorelasi dapat dihilangkan dengan menambahkan variabel yang dapat menjelaskan perubahan yang sangat sistematis tersebut kedalam persamaan regresi. Sebagai contoh, bila residu nampak mengikuti pola siklus, variabel “Dummy” dibutuhkan bagi perhitungan variasi musiman.

D.    ANALISIS PROYEKSI WAKTU


Analisis poyeksi waktu adalah suatu metode peramalan serangkaian waktu yg sesuai dengan garis tren terhadap serangkaian titik-titik data masa lalu, kemudian diproyeksikan ke dalam peramalan masa depan untuk peramalan jangka menengah dan jangka panjang. Dengan kata lain analisis proyeksi waktu atau disebut juga analisis trend (time series) merupakan suatu metode analisis yang ditujukan untuk melakukan suatu estimasi atau peramalan pada masa yang akan datang. Untuk melakukan peramalan dengan baik maka dibutuhkan berbagai macam informasi (data) yang cukup banyak dan diamati dalam periode waktu yang relatif cukup panjang, sehingga dari hasil analisis tersebut dapat diketahui sampai berapa besar fluktuasi yang terjadi dan faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi terhadap perubahan tersebut. Secara teoristis, dalam analisis time series yang paling menentukan adalah kualitas atau keakuratan dari informasi atau data-data yang diperoleh serta waktu atau periode dari data-data tersebut dikumpulkan.
           



            Jika data yang dikumpulkan tersebut semakin banyak maka semakin baik pula estimasi atau peramalan yang diperoleh. Sebaliknya, jika data yang dikumpulkan semakin sedikit maka hasil estimasi atau peramalannya akan semakin jelek.  Metode yang digunakan untuk analisis time series adalah Metode Garis Linier Secara Bebas (Free Hand Method), Metode Setengah Rata-Rata (Semi Average Method), Metode Rata-Rata Bergerak (Moving Average Method) dan Metode Kuadrat Terkecil (Least Square Method). Dalam hal ini akan lebih dikhususkan untuk membahas analisis time series dengan metode kuadrat terkecil yang dibagi dalam dua kasus, yaitu kasus data genap dan kasus data ganjil. Secara umum persamaan garis linier dari analisis time series adalah : Y = a + b X. Keterangan : Y adalah variabel yang dicari trendnya dan X adalah variabel waktu (tahun). Sedangkan untuk mencari nilai konstanta (a) dan parameter (b) adalah :
a = ΣY / N dan b =ΣXY / ΣX2
Contoh kasus data ganjil :
Tabel : Volume penjualan barang “X” ( dalam 000 unit) tahun 1995 sampai denagan 2003

Tahun
Penjualan (Y)
X
XY
X2
1995
200
-4
- 800
16
1996
245
- 3
- 735
9
1997
240
- 2
- 480
4
1998
275
- 1
- 275
1
1999
285
0
0
0
2000
300
1
300
1
2001
290
2
580
4
2002
315
3
945
9
2003
310
4
1.240
16
Jumlah
2.460

775
60
Untuk mencari nilai a dan b adalah sebagi berikut :
 a= 2.460 / 9 = 273,33 dan b= 775 / 60 = 12,92 .Persamaan garis liniernya adalah : Y = 273,33 + 12,92 X.

Dengan menggunakan persamaan tersebut, dapat diramalkan penjualan pada tahun 2010 adalah : Y = 273,33 + 12,92 (untuk tahun 2010 nilai X adalah 11), sehingga : Y = 273,33 + 142,12 = 415,45 artinya penjualan barang “X” pada tahun 2010 diperkirakan sebesar 415.450 unit
Contoh kasus data genap :
Tabel : Volume penjualan barang “X” ( dalam 000 unit) tahun 1995 sampai denagan 2002

Tahun
Penjualan (Y)
X
XY
X2
1995
200
- 7
- 1.400
49
1996
245
- 5
- 1.225
25
1997
240
- 3
- 720
9
1998
275
- 1
- 275
1
1999
285
1
285
1
2000
300
3
900
9
2001
290
5
1.450
25
2002
315
7
2.205
49
Jumlah
2.150

1.220
168

Untuk mencari nilai a dan b adalah sebagai berikut :
a= 2.150 / 8 = 268,75 dan b = 1.220 / 168 = 7,26. Persamaan garis liniernya adalah : Y = 268,75 + 7,26 X. Berdasarkan persamaan tersebut untuk meramalkan penjualan pada tahun 2008 adalah : Y = 268,75 + 7,26 (untuk tahun 2008 nilai X adalah 19), sehingga : Y = 268,75 + 137,94 = 406,69 artinya penjualan barang “X” pada tahun 2008 diperkirakan sebesar 406,69 atau 406.690 unit.

E.    ANALISIS PERILAKU KONSUMEN


1.1 Definisi perilaku konsumen

            Perilaku konsumen merupakan suatu proses dan aktivitas ketika seseorang berhubungan dengan pencarian, pemilihan, pembelian, penggunaan, serta pengevaluasian produk dan jasa demi memenuhi kebutuhan dan keinginan.
Perilaku konsumen merupakan hal-hal yang mendasari konsumen untuk membuat keputusan pembelian. Untuk barang berharga jual rendah (low involvement) proses pengambilan keputusan dilakukan dengan mudah, sedangkan untuk barang berharga jual tinggi (high involvement) proses pengambilan keputusan dilakukan dengan pertimbangan yang matang.Perilaku konsumen menitikberatkan pada aktivitas yang berhubungan dengan konsumsi dari individu. Perilaku konsumen berhubungan dengan alasan dan tekanan yang mempengaruhi pemilihan, pembelian,  penggunaan, dan pembuangan barang dan jasa yang bertujuan untuk memuaskan kebutuhan dan keinginan pribadi.
            Berdasarkan definisi di atas dapat disimpulkan bahwa perilaku konsumen adalah tindakan-tindakan yang dilakukan oleh individu, kelompok atau organisasi yang berhubungan dengan proses pengambilan keputusan dalam mendapatkan, menggunakan barang-barang atau jasa ekonomi yang selalu berubah dan bergerak sepanjang waktu.

1.2  Jenis-jenis perilaku konsumen


Menurut Handi Irawan, Perilaku Konsumen Indonesia dikategorikan  yaitu :
1)     Berpikir jangka pendek (short term perspective), ternyata sebagian besar konsumen Indonesia hanya berpikir jangka pendek dan sulit untuk diajak berpikir jangka panjang, salah satu cirinya adalah dengan mencari yang serba instant
2)     Tidak terencana (dominated by unplanned behavior). Hal ini tercermin pada kebiasaan impulse buying, yaitu membeli produk yang kelihatan menarik (tanpa perencanaan sebelumnnya).
3)     Suka berkumpul. Masyarakat Indonesia mempunnyai kebiasaan suka berkumpul (sosialisasi). Salah satu indicator terkini adalah situs social networking seperti Facebook dan Twitter sangat diminati dan digunakan secara luas di Indonesia.
4)     Gagap teknologi (not adaptive to high technology). Sebagian besar konsumen Indonesia tidak begitu menguasai teknologi tinggi. Hanya sebatas pengguna biasa dan hanya menggunakan fitur yang umum digunakan kebanyakan pengguna lain.
5)     Berorientasi pada konteks (context, not content oriented). Konsumen kita cenderung menilai dan memilih sesuatu dari tampilan luarnya. Dengan begitu,konteks-konteks yang meliputi suatu hal justru lebih menarik ketimbang hal itu sendiri.
6)     Suka buatan Luar Negeri (receptive to COO effect). Sebagian konsumen Indonesia juga lebih menyukai produk luar negeri daripada produk dalam negeri, karna bias dibilang kualitasnya juga lebih bagus dibanding produk di Indonesia
7)     Beragama(religious). Konsumen Indonesia sangat peduli terhadap isu agama. Inilah salah satu karakter khas konsumen Indonesia yang percaya pada ajaran agamanya. Konsumen akan lebih percaya jika perkataan itu dikemukakan oleh seorang tokoh agama, ulama atau pendeta. Konsumen juga suka dengan produk yang mengusung simbol-simbol agama.
8)     Gengsi (putting prestige as important motive). Konsumen Indonesia amat getol dengan gengsi. Banyak yang ingin cepat naik “status” walau belum waktunya. Saking pentingnya urusan gengsi ini, mobil-mobil mewah pun tetap laris terjual di negeri kita pada saat krisis ekonomi sekalipun.
9)     Menurut Handi Irawan D,ada tiga budaya yang menyebabkan gengsi. Konsumen Indonesia suka bersosialisasi sehingga mendorong orang untuk pamer.
10) Budaya feodal yang masih melekat sehingga menciptakan kelas-kelas sosial dan akhirnya terjadi “pemberontakan” untuk cepat naik kelas.  Masyarakat kita mengukur kesuksesan dengn materi dan jabatan sehingga mendorong untuk saling pamer.Budaya lokal (strong in subculture). Sekalipun konsumen Indonesia gengsi dan menyukai produk luar negeri, namun  unsur fanatisme kedaerahan-nya ternyata cukup tinggi. Ini bukan berarti bertentangan dengan hukum perilaku yang lain.Kurang peduli lingkungan (low consciousness towards environment). Salah satu karakter konsumen Indonesia yang unik adalah kekurangpedulian mereka terhadap isu lingkungan. Tetapi jika melihat prospek kedepan kepedulian konsumen terhadap lingkungan akan semakin meningkat, terutama mereka yang tinggal di perkotaan begitu pula dengan kalangan menengah atas relatif lebih mudah paham dengan isu lingkungan.
Lagi pula mereka pun memiliki daya beli terhadap harga premium sehingga akan lebih mudah memasarkan produk dengan tema ramah lingkungan terhadap mereka.

Hierarki Kebutuhan Menurut 5 Teori Abraham Maslow
1.Kebutuhan untuk mengaktualisasikan diri
2.Kebutuhan akan harga diri
3.Kebutuhan rasa social
4.Kebutuhan rasa aman
5.Kebutuhan fisiologis Perilaku Konsumen

1.3  Pendekatan perilaku konsumen

                                                                                 
Teori tingkah laku konsumen dapat dibedakan dalam dua macam pendekatan yaitu:
1)   Pendekatan nilai guna (Utility) Kardinal
Pendekatan nilai guna (Utility) Kardinal atau sering disebut dengan teori nilai subyektif : dianggap manfaat atau kenikmatan yang diperoleh seorang konsumen dapat dinyatakan secara kuantitif / dapat diukur, dimana keseimbangan konsumen dalam memaksimumkan kepuasan atas konsumsi berbagai macam barang, dilihat dari seberapa besar uang yang dikeluarkan untuk membeli unit tambahan dari berbagai jenis barang akan memberikan nilai guna marginal yang sama besarnya. Oleh karena itu keseimbangan konsumen dapat dicari dengan pendekatan kuantitatif.
- Kepuasan seorang konsumen dalam mengkonsumsi suatu barang dapat diukur dengan satuan kepuasan. Misalnya: mata uang.
- Setiap tambahan satu unit barang yang dikonsumsi akan menambah kepuasan yang diperoleh konsumen tersebut dalam jumlah tertentu.
Kepuasan marginal (marginal utility). Tambahan kepuasan yang diperoleh dari penambahan jumlah barang yang dikonsumsi. Hukum tambahan kepuasan yang semakin menurun (The Law of Diminishing Marginal Utility). Besarnya kepuasan marginal akan selalu menurun dengan bertambahnya jumlah barang yang dikonsumsi secara terus menerus.



2) Pendekatan nilai guna ordinal
            Pendekatan nilai guna ordinal atau sering juga disebut analisis Kurva indeference : manfaat yang diperoleh masyarakat dari mengkonsumsikan barang-barang tidak kuantitif / tidak dapat diukur.
Pendakatan ini muncul karena adanya keterbatasan – keterbatasan yang ada pada pendekatan cardinal, meskipun bukan berarti pendekatan cardinal tidak memiliki kelebihan.
               Kelemahan pendekatan ordinal :
Kepuasan konsumen dari mengkonsumsi barang dapat diukur dengan satuan kepuasan. Pada kenyataannya pengukuran semacam ini sulit dilakukan.
               Persamaan kardinal dan ordinal :
Persamaan cardinal dan ordinal yaitu sama-sama menjelaskan tindakan konsumen dalam mengkonsumsi barang-barang yang harganya tertentu dengan pendapatan konsumen yang tertentu pula agar konsumen mencapai tujuannya (maximum utility).
               Perbedaan kardinal dan ordinal
Nilai guna (Utility) Kardinal menganggap bahwa besarnya utility dapat dinyatakan dalam bilangan/angka. Sedangkan analisis ordinal besarnya utility dapat dinyatakan dalam bilangan / angka.
Analisis cardinal mengunakan alat analisis yang dinamakan marginal utiliy(pendekatan marginal). Sedangkan analisis ordinal menggunakan analisis indifferent curve atau kurva kepuasan sama.


BAB III

PENUTUP


1.1  Kesimpulan

Penaksiran permintaan berkaitan dengan cara memperoleh nilai-nilai parameter pada fungsi permintaan yang cocok pada saat ini. Informasi ini penting bagi pengambilan keputusan sekarang dan dalam mengevaluasi apakah keputusan-keputusan sudah optimal dalam konteks situasi permintaan sekarang.
Reaksi pembeli atas perubahan variabel-variabel independen dalam fungsi permintaan dapat ditaksir dengan cara wawancara dan survei., membuat pasra simulasi, atau eksperimen-eksperimen pasar secara langsung. Perhatian harus diarahkan untuk memilah sampel random yang cukup mencerminkan pasar sasaran, dan ukuran masing-masing sampel harus cukup besar sehingga penemuan-penemuan itu dapat dipercaya. Disain kuisioner penting bagi ketepatan prediksi dari wawancara dan survei. Intensi-intensi konsumen tidak terlalu akurat diterjemahkan ke dalam tindakan. Bias wawancara dan kurangnya minat kosumen atau informasi juga membuat distorsi taksiran  yang di peroleh.
Pasar simulasi dan eksperimen passar secara langsung memungkinkan observasi atau konsumen selama proses keputusan konsumsi, dan kesimpulan dapat ditarik dari perilaku aktual konsumen. Perhatian harus diberikan untuk menghilangkan dampak dari pengaruh-pengaruh jangka panjanng dan untuk memastikan apakah perilaku orang-orang dalam klinik konsumen mencerminkan pola perilakunya yang lajim. Teknik pemasaran langsung memberika kesempatan yang ideal untuk menguji dampak berbagai tingkat-tingkat harga yang berbeda atau variabel-variabel strategik.
Analisa regresi dari data yang dikumpulkan memungkinkan perhiungan koefisien-koefisien fungsi permintaan, juga perhiungan berupa beberapa statistik yang menunjukkan keyakinan yang bisa digunakan untuk mendapatkan taksiran. Analisis regresi adalah suatu alat yang sangat baik bila digunakan secara tepat untuk menaksir parameter-parameter fungsi permintaan, berdasarkan kaitan observasi dengan data runtut waktu maupun seksi silang. Kesalahan-kesalahan yang dapat membuat validitas teknik diatas berkurang telah diperliatkan sehingga peneliti dapat merumuskan masalaah untuk analisis dengan baik dan menginterprestasikan hasil-hasil analis dengan baik pula.


DAFTAR PUSTAKA

http://priyono.web.id/index.php/materi-kuliah/ekonomi-manajerial/546-bab-viii-penafsiran-fungsi-permintaan.html
Salvatore, Dominick. (2011). Managerial Economics - Ekonomi Manajerial dalam perekonomian global. Jakarta:  Salemba Empat.