MAKALAH
EKONOMI MANAJERIAL


DI SUSUN OLEH :
1.
ANIYA
2.
DESI DWIYANTI
3.
ERNA RUKMANA DEWI
4.
LINTANG NENSILIA LOLITA
5.
SRI BUDIARTI
6.
TITIN FATIMAH
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam makalah ini
dimaksudkan untuk membahas tentang bagaimana cara/metode yang biasa di dalam
memperoleh data permintaan untuk memecahkan masalah-masalah keputusan bisnis.
Tentu saja harapannya adalah bahwa nilai informasi yang dapat seharusnya lebih
besar dibandingnya dengan biaya yang digunakan untuk mendapatkan informasi
tersebut.
Sebelum membahas persoalan diatas lebih jauh, terlebih dahulu
kita bedakan pengertian antara penapsiran (estimation) dan prakiraan
(forecasting) permintaan. Penaksiran permintaan merupakan proses untuk
menemukan nilai dari koefisien-koefisien fungsi permintaan akan suatu produk
pada masa kini (curen values). Sedangkan prakiraan permintaan merupakan proses
menemukan nilai-nilai permintaan pada periode waktu yang akan datang (future
values). Nilai-nilai masa kini dibutuhkan untuk mengevaluasi optimalitas
penentuan harga sekarang dan kebijaksanaan promosi dan untuk membuat keputusan
sehari-hari. Nilai-nilai pada untuk waktu yang akan datang diperlukan untuk
perencanaan produksi, pengembangan produk baru, investasi, dan keadaan-keadaan
lain dimana keputusan yang harus dibuat mempunyai dampak pada periode waktu yang
panjang.
B. Rumusan Masalah
Telah dikatakan
sebelumnya, untuk memecahkan masalah keputusan dalam suatu bidang bisnis, salah
satu data yang diperlukan adalah data permintaan. Permintaan konsumen terhadap
suatu produk/barang dapat dinyatakan dengan suatu fungsi yang merupakan
hubungan antara variabel dependen dengan variabel independen. Variabel-variabel
inilah yang nantinya akan akan dicari nilai koefisiennya dan akhirnya dengan
suatu teknik tertentu dapat diketahui hubungan antara kedua variabel tersebut.
Maka yang menjadi permasalahan dalam makalah ini adalah sebagai berikut :
1.
Bagaimana mengidentifikasi dan penaksiran
permintaan?
2.
Apa yang dimaksud dengan analisis kualitatif?
3.
Bagaimana pengembangan metode analisis regresi,
analisis waktu dan proyeksi?
BAB II
ISI
A. IDENTIFIKASI DAN PENAKSIRAN PERMINTAAN
1.1 Pengertian
Identifikasi dan penaksiran permintaan adalah suatu proses
pengamatan dan penaksiran suatu
permintaan produk barang atau jasa dipasaran. Penaksiran permintaan itu sendiri
adalah proses menemukan nilai-nilai koefisien dari fungsi permintaan suatu
produk. Dimana fungsi permintaan adalah fungsi dari variabel-variabel
harga, iklan, pendapatan konsumen, trend, dan variabel- variabel lain yang
mempengaruhi tingkat permintaan.
1.2 Metode Penaksiran Permintaan
Metode estimasi (penaksiran) dalam fungsi permintaan bisa digolongkan menjadi
2 yaitu :
a.
Metode langsung
1)
Interview
dan surve
Metode
langsung estimasi permintaan, secara sederhana dapat dilakukan
dengan mengajukan
pertanyaan kepada pembeli terhadap perubahan dalam harga ataupun
determinan lain. Metode langsung estimasi permintaan, secara sederhana
dapat dilakukan dengan mengajukan pertanyaan kepada pembeli maupun pembeli
potensial tentang reaksi-reaksi potensial terhadap perubahan dalam harga
ataupun determinan lain atas keputusan mereka untuk membeli produk.
Pappas (Terjem. 1995:2000), teknik
ini dapat diterapkan secara naip dengan semata-mata mencegat orang-orang yang
berbelanja dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang jumlah produk yang akan
mereka beli di berbagai tingkat harga. Dalam ekstrim lainnya, para pewawancara
terlatih mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang canggih ke sebuah sampel
pelanggan yang dipilih secara seksama untuk menghasilkan informasi yang
diinginkan.
Walaupun
kelihatannya sederhana, dalam pelaksanaannya pendekatan ini menghadapi banyak
kesulitan, yaitu :
Ø
Kecakapan
random
Individu
yang disurvei harus mewakili pasar secara keseluruhan sehingga hasilnya tidak
bisa.
Oleh sebab itu sampel harus cukup besar dan menggunakan
metode random sehingga informasi pasar yang layak untuk mengadakan rencana
perubahan.
Ø
Bias
pewawancara
Dalam hal ini
kehadiran pewawancara dapat mempengaruhi perasaan responden menjadi agak bodoh
sehingga responden dapat memberikan jawaban-jawaban yang tidak benar. Bias
pewawancara sering terjadi baik dalam personal interview, dan bahkan koesioner
yang diposkan sekalipun (sebab ada orang lain yang membacanya).
Ø
Adanya
kesenjangan antara niat dan tindakan
Arsyad (1993:169),
masalah ini sering disebut juga sebagai masalah akurasi jawaban (response accurasy).
Konsumen benar-benar berniat membeli suatu produk ketika diwawancarai, tetapi
ketika dipasarkan mungkin sesuatu hal telah mengubah niat dan pikiran konsumen
tersebut. Akhirnya jawaban-jawaban responden juga tidak dapat dipercaya bila
pertanyaan yang diajukan membingungkan atau ditafsir salah atau mengundang
hal-hal di luar dunia imajinasi konsumen.Secara ringkas bisa dikatakan bahwa
dalam membuat koesioner, harus dipikirkan masak-masak dan hati-hati dan harus
disertai analisis dalam menginterprestasikan hasil survei. Berikut diberikan
contoh hasil survei pasar.
2)
Situasi pasar simulasi
Tidak seperti klinik konsumen,yang dijalankan dalam suatu
laboratorium yang ketat,eksperimen pasar (Market ekperimen) diadakan dipasar
yag sesugguhnya. Terdapat banyak cara untuk melakukan eksperiment ini. Salah
satu metodenya adalah dengan memilih beberapa pasar dengan karakteristik
sosioekonomi yang mirip dan mengubah harga komoditas didalam beberapa toko atau
pasar, mengubah bungkus dipasar
atau toko yang lain,serta mengubah jumlah dan tipe promosi di pasar atau toko
yang lainnya, kemudian merekam respon (pembeli) yang dilakukan oleh konsumen di
beberapa pasar tersebut.
Dengan mennggunakan data sensus atau survey terhadap
berbagai macam pasar, sebuah perusahaan juga dapat menentukan efek dari umur,
jenis kelamin, tingkat pendidikan,pendapatan, jumlah keluarga dan lainnya
terhadap permintaan akan komoditas. Pilihan lainnya perusahaan dapat mengubah,
satu hal sdalam satu waktu, masing – masing factor yang menentukan permintaan
yang bisa dikontrol dalam pasar tertentu, dalam jangka waktu tertentu , dan
merekam respon konsumennya.
Keunggulan dari
eksperimen pasar adalah bahwa mereka
dapat dilakukan dalam skala besar untuk lebih meyakinkan mengenai
keabsahan dari hasilnya dan bahwa konsumen tidak sadar bahwa mereka merupakan
bagian dari suatu eksperimen. Eksperimen
pasar ini juga mempunyai beberapa kekurangan yang serius. Salah satunya adalah
bahwa dalam rangka menjaga biaya tetap rendah, eksperimen biasanya tetap dilakukan
dalam skala yang terbatas dan dalam jangka waktu yang relatif singkat, sehingga
gambarannya terhadap seluruh pasar dan untuk jangka waktu yang lebih panjang
patut dipertanyakan.Kejadian ini diluar dugaan, seperti mogok, cuaca yang
buruk, dapat secara serius menjadikan hasil yang bias dalam eksperimen yang
tidak terkontrol. Mereka juga dapat memonitor eksperimen ini dan mengambil
keuntungan informasi yang bermanfaat yang tidak ingin dibuka oleh perusahaan.
Akhirnya, sebuah perusahaan dapat secara permanen kehilangan pelanggan karena
proses peningkatan harganya selama eksperimen berlangsung dengan harga yang
relatif tinggi.
Disamping kekurangan tersebut , eksperimen pasar dapat
berguna bagi perusahaan dalam menentukan
strategi penentuan harganya yang terbaik dan menguji beberapa jenis bungkus
yang berbeda , kampanye promosi, dan kualitas produk. Eksperimen pasar yang
utama benar-benar berguna dalam proses pengenalan produk dimana tidak ada data
lainnya yang tersedia. Ia juga menjadi sangat bermanfaat dalam
menguji hasil dari teknik statistik yang lainnya yang digunakan untuk
mengestimasi permintaan dan dalam menyediakan beberpa data yang diperlukan
untuk teknik statistik yang lain nya dari estimasi permintaan.Alat
lain untuk melihat respon konsumen terhadap perubahan harga dan usaha promosi
adalah pembuatan pasar simulasi. Pasar simulasi dimaksudkan untuk
mempertimbangkan perilaku konsumen.
3)
Eksperimen pasar secara langsung
Eksperimen pasar secara langsung ini melibatkan
orang-orang yang benar-benar berada di situasi pasar sebenarnya yang
membelanjakan uangnya untuk barang dan jasa yang mereka inginkan. Perusahaan
memilih satu kota atu lebih, pasar regional, atau negara dan melakukan
eksperimen pada “pasar-pasar uji” ini dirancang untuk mencari tahu “penerimaan”
konsumen atas produk dan mengidentifikasi dampak perubahan dari satu variabel
yang dapat dikendalikan atau lebih terhadap jumlah yang diminta.
Sebagai contoh,
pada sebuah pasar regional perusahaan dapat memotong harga produknya sebesar
10% dan membandingkan reaksi penjualan pada pasar tersebut dengan pasar
regional serupa lainnya. Kemungkinan lain, perusahaan tersebut dapat
meningkatkan promosi di pasar tertentu untuk “menilai” dampak dari suatu
perubahan sebelum menanggung biaya dan resiko yang lebih besar untuk melakukan
perubahan tersebut di seluruh wilayah negara.
b. Metode
tidak langsung
1.
Analisis
regresi permintaan konsumen.
Sebuah
teknik statistik yang digunakan untuk menemukan
ketergantungan dari suatu variabel terhadap satu atau
lebih variabel lain. Jadi teknik ini dapat diterapkan untuk mencari nilai dari
koefisien-koefisien tersebutmenunjukkan pengaruh dari variabel yang menentukan
permintaan sebuah produk.
B. ANALISIS KUALITATIF
Survei dan jajak pendapat sering digunakan untuk membuat ramalan jangka
pendek apabila data kuantitatif tidak tersedia. Teknik-teknik kualitatif ini
dapat pula bermanfaat untuk melengkapi peramalan kualitatif yang mengantisipasi
berbagai perubaha dalam selera konsumen atau harapan-harapan perusahaan
mengenai kondisi perekonomian dimasa mendatang. Teknik-teknik itu juga bisa tak
ternilai dalam meramalkan permintaan terhadap produk yang ingin diperkenalkan
oleh perusahaan. Di subab ini akan dikaji dengan singkat peramalan berdasarkan
survei, jajak pendapat, dan meminta perspektif di luar negeri.
1.1 Teknik survei
Pemikiran untuk mengadakan
peramalan berdasarkan survei mengenai berbagai kecenderungan ekonomi adalah
supaya berbagai keputusan ekonomi dapat dibuat dengan baik sebelum terjadi
pengeluaran aktual. Beberapa survei yang sangat terkenal yang digunakan untuk
meramalkan kegiatan ekonomi pada umumnya dan kegiatan ekonomi di berbagai
sektor perekonomian adalah :
1.
Survei
tentang pabrik dan para eksekusi bisnis dan rencana pengeluaran untuk
perlengkapan. Survei ini dilakukan secara berkala oleh McGraw-Hill,Inc menyangkut
lebih dari 50% pembelanjaan pabrik dan perlengkapan baru, dilaksanakan dua kali
setahun, dan diterbitkan oleh Business Week (suatu terbitanMcGraw-Hill).
2.
Survei
tentang rencana perubahan inventori dan harapan penjualan. Ini dilaksanakan secara
berkala oleh Departemen Perdagangan, Asosiasi Agen Pembelian Nasional dan
mereka melaporkan tentang rencan para eksekutif bisnis mengenai perubahan
inventory dan harapan akan penjualan di masa mendatang.
3.
Survei
tentang rencana pengeluaran konsumen. Ini dilaksanakan secara
berkala oleh Biro Sensus dan Pusat Riset Survei Universitas Michigan, dan
mereka melaporkan tentang keinginan konsumen untuk membeli produk-produk
spesifik, termasuk rumah, peralatan konsumen, dan mobil. Hasilnya sering
dipakai untuk meramalkan permintaan konsumen pada umumnya dan tingkat
kepercayaan konsumen dalam perekonomian.
Umumnya, laporan dari
survei-sirvei ini sudah cukup baik untuk meramalkan berbagai pengeluaran
aktual, kecuali dalam masa-masa gejolak politik internasional yang tak
diharapkan, seperti perang atau ancaman perang. Apabila digunakan secara
bersama-sama dengan metode-metode kualitatif lainnya, survei bisa sangat
berguna dalam meramalkan kegiatan ekonomi di sektor-sektor ekonomi yang
spesifik dan untuk perekonomian secara keseluruhan. Perusahaan AS mengeluarkan
lebih dari $ 1 milyar setiap tahun untuk menanyakan kepada lebih dari 50 juta
konumen tentang pendapat mereka mengenai berbagai produk barang dan jasa.
Meskipun demikian, semakin besar jumlah konsumen yang menolak ikut serta dalam
survei riset pasar karena waktunya tersita, privasinya hilang, dan adanya
tekana dari para penjual yang beroperasi dengan selubung riset pasar. Ini
menimbulkan kesulitan yang semakin besar dalam memperoleh sampel-sampel yang
representatif dan tren pemanfaatan riset observasi yang lebih besar.
1.2 Jajak pendapat
Meskipun hasil-hasil survei
yang diterbitkan mengenai rencana pengeluaran dari kalangan bisnis konsumen dan
pemerintah sangat penting,namun biasanya perusahaan memerlukan peralatan
spesifik untuk penjualan sendiri. Penjualan dari perusahaan sangat tergantung
pada tingkat umum dari kegiatan ekonomi
dan penjualan untuk industri secara keseluruhan,tetapi juga tergantung pada
kebijakan yang digariskan oleh perusahaan. Perusahaan dapat meramalkan
penjualannya memlalui pendapat para pakar di dalam dan di luar perusahaan. Ada beberapa
teknik jajak pendapat:
·
Jajak Pendapat Eksekutif.
Perusahaan dapat mengumpulkan
pendapat para manajer tingkat atas dari bagian penjualan, produksi, keuangan,
dan personalia mengenai pandangan mereka tentang masa depanpenjualan dari perusahaan
selama kuartal atau tahun yang akan datang. Walaupun pandangan-pandangan
pribadi itu lebih banyak bersifat subjektif,namun dengan mengambil rata-rata
pendapat para pakar yang sangat mengenal perusahaan dan produk-produknya,
perusahaan berharap dapat sampai pada peramalan yang lebih baik daripada
pendapat yang disampaikan oleh para pakar tersebut secara individual. Para
pakar pemasaran dari luar dapat juga dikumpulkan pendapatnya. Untuk menghindari
efek kereta maka bisa digunakan apa yang dinamakan metode Delphi. Disini para
pakar diminta pendapatnya secara terpisah, kemudian diberikan umpan balik tanpa
mengidentifikasikan pakar yang bertanggung jawab atas pendapat tertentu.
Melalui prosedur umpan balik diharapkan para pakar dapat sampai pada peramalan
yang disepakati.
·
Jajak Pendapat Tenaga Penjual.
Ini adalah peramalan penjual
dari perusahaan di tiap daerah pada setiap gugus produk. Peramalan ini
didasarkan pada pendapat tenaga penjual yang ditugaskan dilapangan oleh
perusahaan.Meraka adalah orang-orang yang paling dekat dengan pasar, dan
pendapat mereka mengenai penjualan dimasa mendatang dapat memberikan informasi
berharga bagi manajemen puncak perusahaan.
·
Jajak Pendapat Tentang Konsumen.
Beberapa perusahaan yang
menjua mobil, mebel,alat-alat rumah tangga, dan barang-barang tahan lama
lainnya kadang-kadang mengumpulkan pendapat para pembeli potensial mengenai apa
yang ingin dibeli.
Dengan menggunakan hasil jajak pendapat itu,
perusahaan dapat meramalkan penjualannya secara nasional untuk tingkat yang
berbeda-beda dari pendapatan disposable
konsumen yang bisa disediakan pada masa depan.
1.2 Mendapatkan perspektif luar negeri
Banyak perusahaan AS menjual peningkatan hasil
produksinya ke luar negeri dan menghadapi persaingan yang semakin meningkat di
dalam maupun di luar negeri dan perusahaan asing.
Maka, menjadi semakin penting bagi
perusahaan-perusahaan tersebut untuk meramalkan berbagai perubahan dalam paras
dan produk di luar negeri karena hal ini memengaruhi tidak hanya ekspor
perusahaan tetapi juga daya saingnya di dalam negeri.Untuk mendapatkan
perspektif luar negeri seperti itu, semakin banyak perusahaan AS membentuk
dewan-dewan beranggotakan orang-orang terhormat dan orang-orang bisnis dari
luar negeri, terutama di Eropa. Maksudnya adalah untuk memperoleh perspektif
global mengenai peristiwa-peristiwa yang berkembang sebagai akibat penyatuan
ekonomi di Eropa Barat, restrukturisasi di Eropa Timur, dan liberalisasi
ekonomi di pasar-pasar yang sedang muncul atau di negara-negara berkembang.
Dasar pemikirannya adalah bahwa tidak ada cara yang lebih baik untuk meramalkan
dan menggambarkan apa yang terjdi di Eropa, kecuali meminta gagasan-gagasan
dari pemerintah dan para pemimpin bisnis yang ada di sana.
Sebagai contoh, General Motors mendapati bahwa Dewan Penasehat Eropa
ternyata bermanfaat dalam mengadakan persiapan-persiapan menghadapi dasa-warsa
pertama abad baru. IBM minta bantuan para dewan penasehatnya di Eropa, Asia,
dan Amerika Latin untuk membantu mengembangkan rencana-rencana strategis.
Keuntungan dari para dewan luar negeri seperti itu adalah tidak perlu
membuang-buang waktu untuk meninjau kembali anggaran atau menangani tugas-tugas
terpercaya lainnya seperti perencanaan suksesi dan dapat mencurahkan seluruh
perhatiannya pada masalah-masalah internasional yang bisa berdampak besar
terhadap masa depan perusahaan sebagai pesaing global. Para dewan perusahaan
biasanya terlalu disibukkan oleh masalah-masalah mendesak dan begitu kurang pengetahuan
tentang pembangunan sehingga tidak mampu menilai sepenuhnya situasi global.
Masukan dari dewan-dewan luar negeri menjadi suatu alat tak ternilai untuk
memperoleh perspektif global dan merencanakan strategi dalam dan luar negeri
untuk jangka yang lebih panjang.
C. ANALISIS REGRESI PERMINTAAN
Analisis regresi
permintaan adalah sebuah teknik statistik yang digunakan untuk menemukan
ketergantungan dari suatu variabel terhadap satu atau lebih variabel lain. Jadi
teknik ini dapat diterapkan untuk mencarai nilai dari koefisien-koefisien
tersebut menunjukkan pengaruh dari variabel yang menentukan permintaan sebuah
produk. Untuk analisis regresi, kita membutuhkan sejumlah observasi,
masing-masing terdiri dari variabel dependen Y dan nilai variable independen X
yang berhubungan.
Analisa regresi ini
memungkinkan kita untuk menarik kesimpulan dari pola hubungan yang ditunjukan
oleh hasil opservasi. Dalam analisis ini dapat digunakan data runtut-waktu
(time series) maupun data seksi-silang (cross-section).
ü Linieritas Persamaan Regresi.
Dengan hipotesis bahwa Y adalah suatu fungsi dari X
atau beberapa variable X, maka dapat ditentukan bentuk ketergantungan variabel
Y terhadap variabel-variabel X, dalam analisis regresi menurut “ketergantungan”
dinyatakan dalam bentuk yang linier. Dengan formulasi sederhana seperti
berikut:


Ket
:
|
y
|
=
|
Variable tetap
|
|
x
|
=
|
Variable bebas
|
|
a
|
=
|
Nilai konstanta
|
|
b
|
=
|
Nilai regresi
|
|
n
|
=
|
Jumlah data
|
|
rxy
|
=
|
Koefisien korelasi
|
Contoh :
Diketahui biaya promosi $15/unit pada tahun ke-6
(2015), hitunglah nilai penjualan dari produksi tersebut untuk koefisien
korelasinya ?
|
N
|
x
|
y
|
x.y
|
X2
|
Y2
|
|
2010
|
10
|
150
|
1500
|
100
|
22.500
|
|
2011
|
11
|
160
|
1760
|
121
|
25.600
|
|
2012
|
10
|
155
|
1550
|
100
|
24.025
|
|
2013
|
12
|
165
|
1980
|
144
|
27.225
|
|
2014
|
13
|
170
|
2210
|
169
|
28.900
|
X = biaya promosi ($) Y = sales promosi ($)
Biaya promosi tahun ke-6
(2015) $ 15/unit :


Artinya
variable x (promosi) sangat berpengaruh terhadap variable y (sales )
ü Masalah-
Masalah dalam Analisa Regresi
Ada
enam masalah utama yang harus diperhatikan dalam analisis regresi, yaitu antara
lain:
a. Kesalahan
Spesifikasi
Yang menyebabkan hasil regresi kurang dapat dipercaya antara lain disebakan oleh
kekeliruan dalam menentukan hubungan antara variabel tidak bebas dengan
variabel tidak bebas dengan variabel bebas. Ada dua kemungkinan kesalahan
tersebut, yang pertama adalah kesalahan dalam menggunakan bentuk hubungan
fungsi antar variabel. Misalnya bentuk hubungan yang sesungguhnya tidak linier
tetapi cetakan regresi yang dipakai menunjukkan hubungan linier. Sebenarnya
dalam batas-batas tertentu landasan teori memberikan petunjuk mengenai bentuk
hubungan tersebut. Akan tetapi dalam menemukan bentuk yang tepat, kita dapat
menggunakan cara dengan mencoba berbagai bentuk persamaan. Bentuk persamaan
yang nilai paling tinggi kita anggap
paling tepat. Sedangkan yang kedua kesalahan yang lain adalah kesalahan dalam
bentuk tidak memasukkan variabel penjelasan yang relevan. Masalah ini
diminimumkan melalui pengkajian teoritik yang cukup memadai. Memang disamping
itu dengan cara merubah komposisi variabel-variabel penjelas, kita dapat
mengatasi masalah ini.
b. Kesalahan
Pengukuran
Kesalahan pengukuran dapat timbul dari berbagai
sebab. Daftar pertanyaan atau kuisioner yang kurang baik, wawancara yang kurang
memadai, pendefenisian variabel yang tidak betul, dan sebagainya dapat berakhir
pada kurang dapat dipercayainya hasil estimasi fungsi permintaan melalui
besar-besaran statistik yang terlalu
kecil, statistik t yang terlalu kecil, statistik f yang terlalu kecil dan
seterusnya.
c. Hubungan
persamaan Simultan
Dalam merancang sebuah fungsi regresi tidak
dibenarkanadanya hubungan timbal balik anatara variabel tidak bebas dengan
salah satu atau lebih variabel bebas. Bila ketentuan ini dilanggar maka timbul
apa yang disebut bias persamaan (equation bias). Contoh yang sangat populer
adalah penggunaan metode OLS untuk mengestimasi kurva permintaan pasar, dimana
terdapat hubungan timbal balik antara harga dan kuantitas yang diminta. Kita
dapat memperlakukan baik harta ataupun jumlah yang diminta sebagai variabel
bebas atau sebagai variabel tidak bebas. Hal ini disebabka n oleh baik dari
segi teori maupun dalam kenyataan keduanya ditentukan secara simultan
(bersamaan) oleh kedua variabel itu sendiri.
d. Multikolinieritas
Multikolinieritas timbul sebagai akkbat adanya
hubungan kasual antara dua variabel pejelas (variabel bebas) atau lebih, atau
sebagai akibat adanya kenyataan bahawa dua variabel penjelas atau lebih secara
bersama-sama dipengaruhi oleh variabel ketiga yang berada diluar sistem
persamaan regresi.
Keberadaan
multikolinieritas dapat ditemukan melalui tes korelasi antar variabel penjelas.
Kalau diketemukan korelasi yang tinggi, maka salah satu variabel penjelas
dilepas.Dengan adanya multikolinieritas maka hasil estimasi koefisien regresi
bersifat bias. Analisa regresi tidak mampu menemukan hubungan yang benar dan
kemampuan hubungan yang benar prediksinya menjadi lemah. Namun demikian maslah
adanya multikolinieritas dalam fungsi regresi dapat ditoleransi apabila
persamaan itu dimaksudkan untuk tujuan prediksi, karena kita ingin mengetahhui pengaruh seluruh variabel bebas
bersama-bersama dan bukan untuk menjelaskan kekuatan-kekuatan hubungan
masing-masing variabel bebas terhadap variabel tidak bebas. Tetapi bila regresi
digunakan untuk keperluan sebagai modal penjelas, maka harus tidak ada
multikolinieritas.
e. Heteroskedastisitas,
Keadaan unsur ini dapat dilihat dari grafik
distribusi nilai “residuals”. Kalau grafiknya secara teratur membengkok atau
mengecil dengan bertambah besarnya nilai variabel penjelas, maka kita harus
waspada dalam menginterprestasikan bessaran statistik t dan karena kurang dapat dipercaya dengan
kecenderungan terlalu tinggi diatas nilai yang sebenarnya. Nilai kesalahan
standar koefisien regresi memberikan indikasi yang keliru. Masalah ini dapat
diatasi dengan meninjau kembali komposisi variabel-variabel penjelas dan
merubah bentuk persamaan hubungan fungsional.
f. Otokorelasi
atau serialkorelasi
Otokorelasi adalah masalah lain yang timbul bila
kesalahan tidak sesuai dengan batasan yang diisyaratkan oleh analisis regresi.
Otokorelasi atau serialkorelasi hanya terjadi kalau kita mengggunakan data
kurun waktu (time series) dan ditandai oleh pola kesalahan yang beruntun. Yakni
besarnya kesalahan kian besar atau kecil.
Yang
menunjukkan pola siklus atau lainnya, karena observasi-observasi X disusun
secara kronologis, pola ini menadakan bahwa beberapa variabel lain berubah
secara sistematis dan mempengaruhi variabel dependen. Otokorelasi dapat
ditemukan secara visual melalui grafik time series residuals atau uji statistik
“Durbin waston”.
Otokorelasi
dapat dihilangkan dengan menambahkan variabel yang dapat menjelaskan perubahan
yang sangat sistematis tersebut kedalam persamaan regresi. Sebagai contoh, bila
residu nampak mengikuti pola siklus, variabel “Dummy” dibutuhkan bagi
perhitungan variasi musiman.
D. ANALISIS PROYEKSI WAKTU
Analisis poyeksi waktu adalah suatu metode peramalan
serangkaian waktu yg sesuai dengan garis tren terhadap serangkaian titik-titik
data masa lalu, kemudian diproyeksikan ke dalam peramalan masa depan untuk
peramalan jangka menengah dan jangka panjang. Dengan kata lain analisis
proyeksi waktu atau disebut juga analisis trend (time series) merupakan
suatu metode analisis yang ditujukan untuk melakukan suatu estimasi atau
peramalan pada masa yang akan datang. Untuk melakukan peramalan dengan baik
maka dibutuhkan berbagai macam informasi (data) yang cukup banyak dan diamati
dalam periode waktu yang relatif cukup panjang, sehingga dari hasil analisis
tersebut dapat diketahui sampai berapa besar fluktuasi yang terjadi dan
faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi terhadap perubahan tersebut. Secara
teoristis, dalam analisis time series yang paling menentukan adalah kualitas
atau keakuratan dari informasi atau data-data yang diperoleh serta waktu atau
periode dari data-data tersebut dikumpulkan.
Jika data yang dikumpulkan tersebut
semakin banyak maka semakin baik pula estimasi atau peramalan yang diperoleh.
Sebaliknya, jika data yang dikumpulkan semakin sedikit maka hasil estimasi atau
peramalannya akan semakin jelek. Metode
yang digunakan untuk analisis time series adalah Metode Garis Linier Secara Bebas
(Free Hand Method), Metode Setengah Rata-Rata (Semi Average Method), Metode
Rata-Rata Bergerak (Moving Average Method) dan Metode Kuadrat Terkecil (Least
Square Method). Dalam hal ini akan lebih dikhususkan untuk membahas
analisis time series dengan metode kuadrat terkecil yang dibagi dalam dua
kasus, yaitu kasus data genap dan kasus data ganjil. Secara umum persamaan
garis linier dari analisis time series adalah : Y = a + b X. Keterangan : Y
adalah variabel yang dicari trendnya dan X adalah variabel waktu (tahun).
Sedangkan untuk mencari nilai konstanta (a) dan parameter (b) adalah :
a
= ΣY / N dan b =ΣXY / ΣX2
Contoh
kasus data ganjil :
Tabel
: Volume penjualan barang “X” ( dalam 000 unit) tahun 1995 sampai denagan 2003
|
Tahun
|
Penjualan
(Y)
|
X
|
XY
|
X2
|
|
1995
|
200
|
-4
|
-
800
|
16
|
|
1996
|
245
|
-
3
|
-
735
|
9
|
|
1997
|
240
|
-
2
|
-
480
|
4
|
|
1998
|
275
|
-
1
|
-
275
|
1
|
|
1999
|
285
|
0
|
0
|
0
|
|
2000
|
300
|
1
|
300
|
1
|
|
2001
|
290
|
2
|
580
|
4
|
|
2002
|
315
|
3
|
945
|
9
|
|
2003
|
310
|
4
|
1.240
|
16
|
|
Jumlah
|
2.460
|
775
|
60
|
Untuk
mencari nilai a dan b adalah sebagi berikut :
a= 2.460 / 9 = 273,33 dan b= 775 / 60 = 12,92
.Persamaan garis liniernya adalah : Y = 273,33 + 12,92 X.
Dengan
menggunakan persamaan tersebut, dapat diramalkan penjualan pada tahun 2010
adalah : Y = 273,33 + 12,92 (untuk tahun 2010 nilai X adalah 11), sehingga : Y
= 273,33 + 142,12 = 415,45 artinya penjualan barang “X” pada tahun 2010
diperkirakan sebesar 415.450 unit
Contoh
kasus data genap :
Tabel
: Volume penjualan barang “X” ( dalam 000 unit) tahun 1995 sampai denagan 2002
|
Tahun
|
Penjualan
(Y)
|
X
|
XY
|
X2
|
|
1995
|
200
|
-
7
|
-
1.400
|
49
|
|
1996
|
245
|
-
5
|
-
1.225
|
25
|
|
1997
|
240
|
-
3
|
-
720
|
9
|
|
1998
|
275
|
-
1
|
-
275
|
1
|
|
1999
|
285
|
1
|
285
|
1
|
|
2000
|
300
|
3
|
900
|
9
|
|
2001
|
290
|
5
|
1.450
|
25
|
|
2002
|
315
|
7
|
2.205
|
49
|
|
Jumlah
|
2.150
|
1.220
|
168
|
Untuk mencari nilai a dan b adalah sebagai berikut :
a= 2.150 / 8 = 268,75 dan b = 1.220 / 168 = 7,26. Persamaan
garis liniernya adalah : Y = 268,75 + 7,26 X. Berdasarkan persamaan tersebut
untuk meramalkan penjualan pada tahun 2008 adalah : Y = 268,75 + 7,26 (untuk
tahun 2008 nilai X adalah 19), sehingga : Y = 268,75 + 137,94 = 406,69 artinya
penjualan barang “X” pada tahun 2008 diperkirakan sebesar 406,69 atau 406.690
unit.
E. ANALISIS PERILAKU KONSUMEN
1.1 Definisi perilaku konsumen
Perilaku konsumen merupakan suatu
proses dan aktivitas ketika seseorang berhubungan dengan pencarian, pemilihan,
pembelian, penggunaan, serta pengevaluasian produk dan jasa demi memenuhi
kebutuhan dan keinginan.
Perilaku
konsumen merupakan hal-hal yang mendasari konsumen untuk membuat keputusan
pembelian. Untuk barang berharga jual rendah (low involvement) proses
pengambilan keputusan dilakukan dengan mudah, sedangkan untuk barang berharga
jual tinggi (high involvement) proses pengambilan keputusan dilakukan dengan
pertimbangan yang matang.Perilaku konsumen menitikberatkan pada aktivitas yang
berhubungan dengan konsumsi dari individu. Perilaku konsumen berhubungan dengan
alasan dan tekanan yang mempengaruhi pemilihan, pembelian, penggunaan, dan pembuangan barang dan jasa
yang bertujuan untuk memuaskan kebutuhan dan keinginan pribadi.
Berdasarkan
definisi di atas dapat disimpulkan bahwa perilaku konsumen adalah
tindakan-tindakan yang dilakukan oleh individu, kelompok atau organisasi yang
berhubungan dengan proses pengambilan keputusan dalam mendapatkan, menggunakan
barang-barang atau jasa ekonomi yang selalu berubah dan bergerak sepanjang
waktu.
1.2 Jenis-jenis perilaku konsumen
Menurut
Handi Irawan, Perilaku Konsumen Indonesia dikategorikan yaitu :
1) Berpikir
jangka pendek (short term perspective), ternyata sebagian besar konsumen
Indonesia hanya berpikir jangka pendek dan sulit untuk diajak berpikir jangka
panjang, salah satu cirinya adalah dengan mencari yang serba instant
2) Tidak
terencana (dominated by unplanned behavior). Hal ini tercermin pada kebiasaan
impulse buying, yaitu membeli produk yang kelihatan menarik (tanpa perencanaan
sebelumnnya).
3) Suka
berkumpul. Masyarakat Indonesia mempunnyai kebiasaan suka berkumpul
(sosialisasi). Salah satu indicator terkini adalah situs social networking
seperti Facebook dan Twitter sangat diminati dan digunakan secara luas di
Indonesia.
4) Gagap
teknologi (not adaptive to high technology). Sebagian besar konsumen Indonesia
tidak begitu menguasai teknologi tinggi. Hanya sebatas pengguna biasa dan hanya
menggunakan fitur yang umum digunakan kebanyakan pengguna lain.
5) Berorientasi
pada konteks (context, not content oriented). Konsumen kita cenderung menilai
dan memilih sesuatu dari tampilan luarnya. Dengan begitu,konteks-konteks yang
meliputi suatu hal justru lebih menarik ketimbang hal itu sendiri.
6) Suka
buatan Luar Negeri (receptive to COO effect). Sebagian konsumen Indonesia juga
lebih menyukai produk luar negeri daripada produk dalam negeri, karna bias
dibilang kualitasnya juga lebih bagus dibanding produk di Indonesia
7) Beragama(religious).
Konsumen Indonesia sangat peduli terhadap isu agama. Inilah salah satu karakter
khas konsumen Indonesia yang percaya pada ajaran agamanya. Konsumen akan lebih
percaya jika perkataan itu dikemukakan oleh seorang tokoh agama, ulama atau
pendeta. Konsumen juga suka dengan produk yang mengusung simbol-simbol agama.
8) Gengsi
(putting prestige as important motive). Konsumen Indonesia amat getol dengan
gengsi. Banyak yang ingin cepat naik “status” walau belum waktunya. Saking
pentingnya urusan gengsi ini, mobil-mobil mewah pun tetap laris terjual di
negeri kita pada saat krisis ekonomi sekalipun.
9) Menurut
Handi Irawan D,ada tiga budaya yang menyebabkan gengsi. Konsumen Indonesia suka
bersosialisasi sehingga mendorong orang untuk pamer.
10) Budaya
feodal yang masih melekat sehingga menciptakan kelas-kelas sosial dan akhirnya
terjadi “pemberontakan” untuk cepat naik kelas.
Masyarakat kita mengukur kesuksesan dengn materi dan jabatan sehingga
mendorong untuk saling pamer.Budaya lokal (strong in subculture). Sekalipun
konsumen Indonesia gengsi dan menyukai produk luar negeri, namun unsur fanatisme kedaerahan-nya ternyata cukup
tinggi. Ini bukan berarti bertentangan dengan hukum perilaku yang lain.Kurang
peduli lingkungan (low consciousness towards environment). Salah satu karakter
konsumen Indonesia yang unik adalah kekurangpedulian mereka terhadap isu
lingkungan. Tetapi jika melihat prospek kedepan kepedulian konsumen terhadap lingkungan
akan semakin meningkat, terutama mereka yang tinggal di perkotaan begitu pula
dengan kalangan menengah atas relatif lebih mudah paham dengan isu lingkungan.
Lagi
pula mereka pun memiliki daya beli terhadap harga premium sehingga akan lebih
mudah memasarkan produk dengan tema ramah lingkungan terhadap mereka.
Hierarki Kebutuhan Menurut 5 Teori Abraham Maslow
1.Kebutuhan untuk mengaktualisasikan diri
2.Kebutuhan akan harga diri
3.Kebutuhan rasa social
4.Kebutuhan rasa aman
5.Kebutuhan fisiologis Perilaku Konsumen
1.3 Pendekatan perilaku konsumen
Teori tingkah laku konsumen dapat dibedakan dalam
dua macam pendekatan yaitu:
1) Pendekatan
nilai guna (Utility) Kardinal
Pendekatan nilai guna (Utility) Kardinal atau sering
disebut dengan teori nilai subyektif : dianggap manfaat atau kenikmatan yang
diperoleh seorang konsumen dapat dinyatakan secara kuantitif / dapat diukur,
dimana keseimbangan konsumen dalam memaksimumkan kepuasan atas konsumsi
berbagai macam barang, dilihat dari seberapa besar uang yang dikeluarkan untuk
membeli unit tambahan dari berbagai jenis barang akan memberikan nilai guna
marginal yang sama besarnya. Oleh karena itu keseimbangan konsumen dapat dicari
dengan pendekatan kuantitatif.
- Kepuasan seorang konsumen dalam mengkonsumsi suatu
barang dapat diukur dengan satuan kepuasan. Misalnya: mata uang.
- Setiap tambahan satu unit barang yang dikonsumsi
akan menambah kepuasan yang diperoleh konsumen tersebut dalam jumlah tertentu.
Kepuasan marginal (marginal utility). Tambahan
kepuasan yang diperoleh dari penambahan jumlah barang yang dikonsumsi. Hukum
tambahan kepuasan yang semakin menurun (The Law of Diminishing Marginal
Utility). Besarnya kepuasan marginal akan selalu menurun dengan bertambahnya
jumlah barang yang dikonsumsi secara terus menerus.
2) Pendekatan nilai guna ordinal
Pendekatan
nilai guna ordinal atau sering juga disebut analisis Kurva indeference :
manfaat yang diperoleh masyarakat dari mengkonsumsikan barang-barang tidak
kuantitif / tidak dapat diukur.
Pendakatan ini muncul karena adanya keterbatasan –
keterbatasan yang ada pada pendekatan cardinal, meskipun bukan berarti
pendekatan cardinal tidak memiliki kelebihan.
Kelemahan
pendekatan ordinal :
Kepuasan konsumen dari mengkonsumsi barang dapat
diukur dengan satuan kepuasan. Pada kenyataannya pengukuran semacam ini sulit
dilakukan.
Persamaan
kardinal dan ordinal :
Persamaan cardinal dan ordinal yaitu sama-sama
menjelaskan tindakan konsumen dalam mengkonsumsi barang-barang yang harganya
tertentu dengan pendapatan konsumen yang tertentu pula agar konsumen mencapai
tujuannya (maximum utility).
Perbedaan
kardinal dan ordinal
Nilai guna (Utility) Kardinal menganggap bahwa besarnya
utility dapat dinyatakan dalam bilangan/angka. Sedangkan analisis ordinal
besarnya utility dapat dinyatakan dalam bilangan / angka.
Analisis cardinal mengunakan alat analisis yang
dinamakan marginal utiliy(pendekatan marginal). Sedangkan analisis ordinal
menggunakan analisis indifferent curve atau kurva kepuasan sama.
BAB III
PENUTUP
1.1 Kesimpulan
Penaksiran permintaan berkaitan
dengan cara memperoleh nilai-nilai parameter pada fungsi permintaan yang cocok
pada saat ini. Informasi ini penting bagi pengambilan keputusan sekarang dan
dalam mengevaluasi apakah keputusan-keputusan sudah optimal dalam konteks
situasi permintaan sekarang.
Reaksi pembeli atas
perubahan variabel-variabel independen dalam fungsi permintaan dapat ditaksir
dengan cara wawancara dan survei., membuat pasra simulasi, atau
eksperimen-eksperimen pasar secara langsung. Perhatian harus diarahkan untuk
memilah sampel random yang cukup mencerminkan pasar sasaran, dan ukuran
masing-masing sampel harus cukup besar sehingga penemuan-penemuan itu dapat
dipercaya. Disain kuisioner penting bagi ketepatan prediksi dari wawancara dan
survei. Intensi-intensi konsumen tidak terlalu akurat diterjemahkan ke dalam
tindakan. Bias wawancara dan kurangnya minat kosumen atau informasi juga
membuat distorsi taksiran yang di
peroleh.
Pasar simulasi dan
eksperimen passar secara langsung memungkinkan observasi atau konsumen selama
proses keputusan konsumsi, dan kesimpulan dapat ditarik dari perilaku aktual
konsumen. Perhatian harus diberikan untuk menghilangkan dampak dari
pengaruh-pengaruh jangka panjanng dan untuk memastikan apakah perilaku
orang-orang dalam klinik konsumen mencerminkan pola perilakunya yang lajim.
Teknik pemasaran langsung memberika kesempatan yang ideal untuk menguji dampak
berbagai tingkat-tingkat harga yang berbeda atau variabel-variabel strategik.
Analisa regresi dari data yang
dikumpulkan memungkinkan perhiungan koefisien-koefisien fungsi permintaan, juga
perhiungan berupa beberapa statistik yang menunjukkan keyakinan yang bisa
digunakan untuk mendapatkan taksiran. Analisis regresi adalah suatu alat yang
sangat baik bila digunakan secara tepat untuk menaksir parameter-parameter
fungsi permintaan, berdasarkan kaitan observasi dengan data runtut waktu maupun
seksi silang. Kesalahan-kesalahan yang dapat membuat validitas teknik diatas
berkurang telah diperliatkan sehingga peneliti dapat merumuskan masalaah untuk
analisis dengan baik dan menginterprestasikan hasil-hasil analis dengan baik
pula.
DAFTAR PUSTAKA
http://priyono.web.id/index.php/materi-kuliah/ekonomi-manajerial/546-bab-viii-penafsiran-fungsi-permintaan.html
Salvatore, Dominick.
(2011). Managerial Economics - Ekonomi
Manajerial dalam perekonomian global. Jakarta: Salemba Empat.